BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Nun Mati dan Tanwin
Nun
Mati, adalah Nun yang tidak berharokat. Baik Fathah, Kasroh, maupun Dhommah.
Nun Mati bisa terletak pada kalimat Isim, Fi’il, maupun Huruf. Juga bisa
terletak di tengah maupun ujung kalimat. Keberadaan Nun Mati akan selalu nyata,
baik dalam bentuk tulisan, pengucapan, Washol, maupun Waqaf. Maksudnya, nyata
terdengar bunyi suara Nun-nya.
Tanwin
menurut bahasa adalah At-Tashwit, artinya seperti kicuan burung. Sedangkan
menurut istilah, Tanwin adalah Nun Mati yang terdapat pada ahir Isim yang
tampak dalam bentuk suara (dan ketika Washol), tidak dalam penulisan dan pada
saat Waqaf.
Perbedaan
pokok antara Nun Mati dan Tanwin:
“Nun
Mati tetap nyata dalam penulisan maupun pengucapan, baik dalam Washol maupun
dalam Waqaf.” (Al Minahul Fikriyyah, hlm 46)
“(sedangkan)
Tanwin tetap nyata (tedengar) dalam pengucapan dan ketika Washol, namun tidak
dalam penulisan dan Waqaf.” (Al-Qoulus Sadid, hlm 19)
B.
Pembagian
Hukum Nun Mati dan Tanwin
Hukum
NunMati dan Tanwin jika bertemu dengan salah satu huruf Hijaiyyah, mempunyai
empat hukum bacaan.Yakni:
1. Idzhar
2. Idhom
3. Iqlab
4. Ikhfa
Dalam
nadzom dijelaskan: “Untuk Nun Mati dan Tanwin ada empat hukum, maka ambillah
semua pelajaran tersebut.” (Fathul Atfal, hal 6)
1.
Idzhar
“Yang
pertama (dalam hukum Nun mati dan Tanwin) Adalah Idzhar,yaitu (Nun mati dan
Tanwin) yang terletak sebelum huruf halq yang berjumlah enam.”
a. Pengertian
Idzhar
Idzhar menurut bahasa adalah Al-Bayan, artinya
jelas. Sedangkan Idzhar menurut istilah, yakni mengeluarkan setiap huruf dari
makhrojnya tanpa memakai dengung (sengau) pada huruf yang dibaca Idzhar.
(Hidayatul Mustafid, halm 5)
Idzhar
menurut pengertian hukum Nun Mati dan Tanwin adalah:
“Apabila Nun Mati dan Tanwin menghadapi
salah satu dari huruf (Halq) yang enam, maka dinamakan Idzhar Halqi.”
(Al-Qoulus Sadid, hlm 19)
Huruf yang dimaksud adalah: Hamzah, Ha,
‘Ain, Ghin, Kha, dan Kho. Keenam huruf tersebut dikatakan Idzhar Halqi karena
jelasnya pengucapan Nun Mati dan Tanwin ketika menghadapi huruf-huruf yang
keluar dari Halq atau tenggorokan.
b. Tingkatan
Idzhar
Ditnjau dari segi jauh-dekatnya kedudukan keenam
huruf Idzhar, ditemukan tiga penglompokkan, sbb:
1. Idzhar
A’la, yakni Idzhar yang tinggi atau kuat. Hurufnya Hamzah dan Ha.
2. Idzhar
Ausath, yakni Idzhar pertengahan. Hurufnya ‘Ain dan Kha.
3. Idzhar
Adna, yakni Idzhar yang rendah atau lemah. Hurufnya Ghin dan Kha.
c. Cara
Mengucapkan Idzhar
Secara teoritis, pengucapan Idhar yang baik adalah
dengan mengucapkan huruf Nun Mati atau Tanwin sesuai dengan makhroj dan sifat
yang dimilikinya, kemudian diiringi pengucapan huruf Idzhar juga sesuai dengan
makhroj dan sifatnya .
Pengucapannya berlangsung dengan lunak tanpa
terputus anatara kedua huruf, tetapi tidak pula tercampur hingga keluar suara
baru milrip Qolqolah. Masing-masing huruf diucapkan sesuai ketentuannya dengan
lembut tanpa dipaksa.
d. Sifat
Ghunnah Huruf Nun
Ghunnah atau dengung merupakan sifat asli dari huruf
Nun. Sebagian Ahli Tajwid berpendapat bahwa dengan terjadinya Idzhar, sebelum
mengucapkan Idzhar, Ghunnah Nun telah hilang. Sebagian lagi berpendapat bahwa Ghunnah
tetap ada dan tidak terpengaruh dengan adanya Idzhar tersebut.
Dalam masalah ini, Syekh Al-Mar’asyi memberi
komentar bahwa perbedaan pendapat itu sebenarnya hanya dari istilah saja. Bagi
yang mengatakan Ghunnahnya hilang, maksudnya Ghunnah tersebut tidak tampak
jelas seperti pada waktu Idghom atau Ikhfa. Sedangkan bagi yang mengtakan tetap
ada, maksudnya, secara fakta pengucapan Nun tidak akan terlepas dari Ghunnah,
sebab Ghunnah merupakan sifat Nun yang asli. Apabila tidak terdapat Ghunnah,
jelas bukan huruf Nun yang terdengar.
e. Penyebab
Terjadinya Hukumi Idzhar
Adapun penyebab terjadinya hukum Idzhar
adalah karena jauhnya makhroj. Huruf Idzhar keluar dari daerah kerongkongan
(Halq) sedang makhroj Nun dan Tanwin berada di ujung lidah. Jadi, akan terjadi
kesulitan pengucapan jika diberi hukum lain. Apalagi huruf Nun dan Tanwin
termasuk huruf yang mudah pengucapannya, sedankan huruf Halq adalah huruf
berat, dengan demikian tidak mungkin pertemuan huruf-huruf ini diberikan hukum
Ikhfa ataupun Idghom.
2.
Idghom
“Yang
ke-dua (dalam hukum Nun Mati dan Tanwin) adalah Idghom, dengan hurufnya yang
berjumlah enam. (Huruf-huruf tersebut) menurut pendapat yang kuat terkumpul dalam
lafadz yarmilun.” (Fathul Aqfal, hlm 8)
a. Pengertian
Idghom
Idghom menurut bahasa adalah memasukkan sesuatu
kepada sesuatu. Sedangkan menurut istilah, Idghom berarti bertemunya huruf yang
bersukun dengan huruf yang berharokat, sehingga kedua huruf tersebut menjadi
satu huruf, dan huruf yang ke-dua menjadi bertasydid. Kemudian lisan
mengucapkan huruf tersebut dengan sekali ucapan. (Hidayatul Mustafifd, hlm 6)
Idghom dalam pengertian hukum Nun
Mati dan Tanwin:
“Apabila Nu Mati dan Tanwin menghadapi salah satu
huruf yang enam, yaitu Ya, Ro, Mim, Lam, Wawu, dan Nun, dinamakan Idghom.”
b. Pembagian
Idghom
Idghom
dalam hukum Nun Mati dan Tanwin dibagi dalam dua bagian, yakni:
1) Idghom
Bighunnah
Secara
bahasa, Idghom arinya ‘memasukkan’, bighunnah artinya ‘dengan dengung’. Dalam
pengertian hukum nun mati dan tanwin, apabila nun mati dan tanwin bertemu
dengan salah satu huruf idghom yang empat, maka dinamakan Idghom Bighunnah.
(Al-QoulusSadid, hlm 21)
Keempat huruf
tersebut terkumpul dalam lafdz ‘yanmu’.
Cara membaca Idghom Bighunnah adalah
dengan memasukkan suara nun mati atau tanwin kepada huruf idghom bighunnah yang
ada di hadapannya sehingga menjadi satu ucapan, seakan-akan satu huruf. Pada
wktu meng-idghom-kan, suara harus di-tasydid-kan kepada huruf Idghom Bighunnah
yang ada di depan nun mati atau tanwin, kemudian ditahan kira-kira dua ketukan
dengan memakai Ghunnah (sengau) ketika membacanya.
Berbeda dengan hukum lainnya, hukum
idghom di sini hanya terjadi pada susunan dua kata, dan tidak terjadi pada satu
kata. Apabila berkumpul dalam satu kata, maka tidak boleh di-idghom-kan,
melainkan harus dibaca Idzhar Mutlaq. Hal ini dilakukan karena takut tertukar
dengan kalimat mudlo’af (penggandaan huruf).
2) Idghom
Bilaghunnah
Idghom
Bilaghunnah artinya tidak memakai Ghunnah (dengung/sengau). Dalam pengertian
hukum nun mati dan tanwin adalah apabila ada nun mati dan tanwin bertemu dengan
huruf lam atau ro, maka dinamakan Idghom Bilaghunnah.
Cara membaca
Idhom Bilaghunnah adalah dengan memasukkan suara nun mati dan tanwin sepenuhnya
kepada huruf lam atau ro tanpa memakai dengung. Pada saat di-tasydid-kan pada
huruf lam dan ro seraya menahan sejenak.
3.
Iqlab
“Yang
ke-tiga (dalam hukum Nun Mati dan Tanwin) adalah Iqlab, yakni apabila (Nun Mati
atau Tanwin) menghadapi huruf Ba, maka ditukar kepada Mim dengan suara antara
Ghunnah dan Ikhfa.” (Fathul Aqfal, hlm 10)
a. Pengertian
Iqlab
Iqlab menurut bahasa ialah memindahkan
sesuatu dari bentuk asalnya (kepada bentuk lain). Sedangkan menurut istilah,
Iqlab adalah menjadikan suatu huruf kepada makhroj huruf lain dengan tetap
menjaga Ghunnah pada huruf yang ditukar.
Iqlab
dalam pengertian hukum Nun Mati dan Tanwin, yakni:
“Apabila Nun Mati atau Tanwin beremu
dengan huruf Ba, Maka keduanya ditukar dengan huruf Mim, tetapi hanya dalam
bentuk suara, tidak dalam tulisan.” (Hidayatul Mustafid, hlm 7)
b. Cara
Membaca Iqlab
Cara membaca Iqlab adalah dengan
mengubah suara Nun Mati atau tanwin menjadi Mim. Kedua bibir dirapatkan untuk mengeluarkan
bunyi dengan dibarengi dengung yang keluar dari pangkal hidung. Kemudian
ditahan sejenak, kira-kira dua ketukan sebagi tanda bahwa di sana terdapat
hukum Iqlab.
c. Penyebab
Terjadinya Hukum Iqlab
Setidaknya ada tiga alas an yang
dikemukakan oleh Jumhur Ulama tentang alas an terjadinya hukum Iqlab, yakni:
1) Karena
huruf Nun dan Tanwin mengandung Ghunnah, sedang untuk mengucapkan huruf Ba,
bibir harus tertutup. Ini akan mengakibatkan terhalangnya Ghunnah, apabila
dibaca dengan Idzhar.
2) Antara
huruf Nun dan Tanwin dengan Ba berbeda makhroj dan sifat. Karena itu ia tidak
akan memenuhi syarat apabila dibaca Idghom.
3) Apabila
dibaca dengan Ikhfa, juga tidak mungkin. Karena berarti masih di antara Idzhar
dan Idghom.
Karenanya, cara terbaik adalah dengan
menukar huruf Nun Mati atau Tanwin dengan Mim. Disamping karena Mim mempunyai
sifat yang sama dengan Nun, yakni Ghunnah. Juga karena makhrojnya sama dengan
Ba, sehingga pengucapannya menjadi mudah dan sifat Ghunnahnya tidak hilang.
d.
Ikhfa
“Yang ke-empat (dalam hukum Nun Mati dan Tanwin)
adalah Ikhfa, yaitu ketika (Nun Mati atau Tanwin) menghadapi huruf-huruf sisa
dari hukum-hukum sebelumnya (Idzhar, Idghom, dan Iqlab). Jumlahnya 15 huruf.”
(Al-Qoulus Sadid, hlm 20)
a. Pengertian
Ikhfa
Ikhfa
menurut bahasa adalah Al-Satru, artinya samara tau tertutup. Sedangkan menurut
istilah, Ikhfa adalah mengucapkan huruf dengan sifat antara Idzhar dan Idghom,
tanpa tasydid dan dengan menjaga Ghunnah pada huruf yang di-Ikhfa-kan.
Ikhfa
dalam pengertian Nun Mati dan Tanwin adalah:
“Apabila
Nun Mati dan Tanwin menjumpai huruf
Ikhfa yang lima belas, maka dinamakan Ikhfa Haqiqi.” (Fathul Aqfal, hlm 11)
b. Cara
Membaca Huruf Ikhfa
Yakni dengan
memadukan suara antara Nun Mati dan Tanwin dengan suara huruf Ikhfa yang ada di
hadapannya. Suara Ikhfa akan terdengar samar antara Idzhar dan Idghom. Ketika
itu suara Nun Mati atau Tanwin masih tetap terdengar, namun samar. Demikian
juga huruf Ikhfa mulai terdengar, namun samar. Saat proses hukum Ikhfa
berlangsung, suara ditahan sejenak kira-kira dua ketukan, baru kemudian
disambung dengan pengucapan huruf Ikhfa.
c. Tingkatan-Tingkatan
Bacaan Ikhfa
Sesuai
dengan makhrojhuruf Nun (bunyi Nun pada Tanwin) dengan makhroj kelimabelas
huruf Ikhfa, berbeda-beda. Maka, karakteristik suara Ikhfa yang dihasilkan juga
berbeda-beda. Karena itu hukum Ikhfa dikelompokkan menjadi tiga, yakni:
1) Ikhfa
Ab’ad
Ikhfa Ab’ad artinya Ikhfa yang paling
jauh. Ikhfa jenis ini terjadi apabila Nun Mati atau Tanwin menghadapi huruf
dari salah satu dua huruf, yakni Qof dan Kaf.
Dinamakan Ikhfa Ab’ad, dikarenakan Nun
Mati atau Tanwin menghadapi huruf yang makhrojnya paling jauh dengan makhroj
Nun. Di antara kelimabelas huruf Ikhfa, huruf Qof dan Kaf adalah huruf yang
paling jauh dari Nun, karena kedua huruf tersebut berasal dari Aqshol Lisan
(pangkal lidah).
Paduan Nun Mati atau Tanwin yang
menghadapi huruf Qof dan Kaf, akan menghasilkan bunyi ‘Ng’. Dan pada waktu
pengucapan Ikhfa Ab’ad ini, bacaan Ikhfa-nya lebih lama dari Ghunnahnya.
2) Ikhfa
Aqrob
Aqrob artinya dekat, sedangkan dalam
hukum ini, Ikhfa Aqrob terjadi pada saat Nun Mati dn Tanwin menghadapi salah
satu dari ketiga huruf Ta, Tho, dan Dal. Dinamakan Ikhfa Aqrob karena Nun Mati
dan Tanwin menghadapi huruf yang letak makhrojnya paling dekat dengan makhroj
Nun, yakni pada Ushuluts Tsanayal Ulya, atau pangkal gigi seri atas.
Suara yang dihasilkan dari hukum ini
adalah suara yang mendekati huruf ‘N’. Kemudian suara ditahan selama dua
ketukan agar tidak tertukar dengan bacaan Idzhar yang dibaca satu ketukan.
3) Ikhfa
Ausath
Ausath artinya pertengahan, terjadi
apabila Nun Mati atau Tanwin menghadapi huruf-huruf yang jarak makhrojnya
sedang. Tidak terlalu jauh, ataupun terlalu dekat dengan makhroj Nun. Hurufnya
ada 10, yakni sisa dari huruf Ikhfa Ab’ad dan Ikhfa Aqrob. Karenanya, suara
yang dihasilkan pun suara antara ‘Ng’ dan ‘N’. Dengan bacaan Ikhfa dan
Ghunnahnya yang sama.
“Apaila Nun Mati dan Tanwin bertemu
dengan huruf Fa, bunyinya berubah menjadi ‘M’ namun mulutnya tidak tertutup
rapat, masih ada udara yang keluar ketika membacanya.” Jelas Ust. A. Mas’ud
Syafi’I, dalam bukunya, Pelajaran Tajwid.
BAB III
KESIMPULAN:
1.
Nun
Mati adalah Nun yang tidak berharokat.
2.
Tanwin adalah Nun dalam ucapan, namun tidak pada tulisan.
3.
Pembagian hukum Nun Mati dan Tanwin ada empat, yakni:
1)
Idzhar
2)
Idghom
3)
Iqlab
4)
Ikhfa
4.
Tingkatan Idzhar ada tiga, yakni;
1) Idzhar A’la, yakni Idzhar yang tinggi
atau kuat. Hurufnya Hamzah dan Ha.
2) Idzhar Ausath, yakni Idzhar pertengahan.
Hurufnya ‘Ain dan Kha.
3) Idzhar Adna, yakni Idzhar yang rendah
atau lemah. Hurufnya Ghin dan Kha.
5.
Idghom dibagi menjadi dua, yakni:
1)
Idghom Bighunnah
2)
Idghom Bilaghunnah
6.
Tingkatan Ikhfa ada tiga, yakni:
1)
Ikhfa Ab’ad
2)
Ikhfa Aqrob
3)
Ikhfa Ausath
7.
Terjadinya hukum Nun Mati dan Tanwin ini akibat berbeda-bedanya makhroj
di antara bunyi Nun dan huruf-huruf hijaiyyah lainnya.

